Pelarangan atau pun pembatasan pada materi pornografi belum maksimal dilaksanakan.
Dampak pornografi terhadap perkembangan jiwa anak dan remaja ternyata lebih dahsyat dari yang dibayangkan. Tanyakan itu kepada Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, Hj Elly Risman Musa SPsi, maka akan memperoleh gambaran yang memprihatinkan.
''Kita semua patut prihatin dengan yang terjadi pada anak-anak kita dewasa ini," kata Elly, kepada Republika, beberapa waktu lalu.
Ibu tiga putri itu punya sederet bukti. Dari berbagai forum dan kegiatan yang diikuti, baik di seminar, konsultasi psikologi, maupun di radio, dia menemukan hal-hal yang tidak terduga menyangkut respons anak-anak, remaja, orangtua dan guru terhadap bahaya pornografi.
Saat memandu acara konsultasi di radio, Elly menemukan para orangtua dan guru kian gelisah melihat perilaku anak-anaknya. "Bagaimana saya harus bersikap terhadap anak didik saya? Mereka suka duduk berduaan di kolong meja atau di pojokan sekolah?"
Elly juga pernah terkejut bukan main pada waktu berkunjung ke sebuah SD di pinggiran Jakarta. Ketika itu, bersama yayasannya, dia sedang menggelar acara sosialisasi.
Tiba-tiba, seorang siswa kelas empat dengan polosnya menanyakan sesuatu yang belum sepantasnya diajukan anak seusianya. Sontak, Elly tak mampu berkata apa-apa. "Saya sangat trenyuh memikirkan hal itu," kenangnya.
Pertanyaannya, mengapa bisa terjadi seperti ini? Menurut pengasuh kolom konsultasi keluarga di sejumlah media massa tersebut, hal itu tak lain akibat tayangan dan paparan berbau pornografi yang seolah tidak terbendung dan menyerang anak-anak serta remaja.
Elly sendiri mengistilahkan bahaya itu sebagai 'terorisme' atau 'bom' terhadap jiwa anak. Mulai dari film, games (permainan), situs internet, SMS pornografi bahkan komik, semuanya adalah ancaman yang harus diwaspadai.
Padahal dari hasil riset dr Donald Hilton, seorang ahli bedah otak dan dokter terkemuka dari Amerika Serikat yang datang Februari lalu atas undangan Yayasan Kita dan Buah Hati, dikatakan bila kokain merusak otak di tiga bagian, maka pornografi atau kecanduan seks akan merusak otak di lima bagian.
Itulah dampak terorisme jiwa. Celakanya, dia menilai upaya pelarangan atau membatasi materi pornografi, belum maksimal dilakukan.
"Meski sudah diteriakkan ke mana-mana tetap saja tidak ada teguran. Sepertinya mereka (pemilik modal, red) punya dana besar sekali yang sulit dikalahkan," kata dia, sedih.
Lantas, bagaimana peran orangtua dalam mengatasi dampak buruk pornografi? Elly justru mengaku tidak habis pikir. Ternyata sebagian orangtua sedang dilanda budaya cuek. "Jadi, seolah-olah nggak terjadi apa-apa dengan anaknya," ujarnya.
Salah satu contoh yakni membebaskan anak memakai telepon genggam, alasannya agar memudahkan komunikasi. Sebagian bahkan membekali anaknya yang masih duduk di SD atau SMP dengan Blackberry.
Maka dengan fasilitas internet yang ada, mereka pun dapat berselancar di dunia maya secara leluasa. Atau bermain game yang kontennya kadang sangat tidak mendidik.
"Prancis saja menyetop pemakaian HP untuk anak SD. Kita boro-boro," keluh dia.
Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) ini memang dikenal luas pada kepeduliaannya terhadap persoalan tersebut. Bersama yayasannya maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian serupa, Elly terus berupaya membangun kepedulian demi menyelamatkan generasi bangsa dari kerusakan moral dan akhlak.
Dikatakan Elly, kenyataan yang ada serta pertanyaan para orangtua dan guru tadi, membuktikan ketakutan masa lalunya. Lima tahun lalu, dia pernah khawatir bahwa siswa TK dapat menjadi korban kekerasan seksual. ''Ternyata, kekhawatiran saya sekarang jadi nyata,'' tandasnya.
Untuk itu, lembaga Yayasan Ibu dan Buah Hati pernah menerbitkan sebuah buku sebagai panduan dan bimbingan bagi orangtua bagaimana menghindarkan anak dan balita dari tindak kekerasan itu.
Tapi, gempuran pornografi tak pernah surut. Dampaknya luar biasa. Terorisme jiwa lambat laun menciutkan otak anak dan membuat adiksi pada pornografi. "Perlu upaya segencar menanam pohon atau membasmi terorisme, terhadap bahaya yang dihadapi anak-anak Indonesia," tegas Elly lagi.
Sumber: http://www.republika.co.id:8080/berita/68254/hj-elly-risman-musa-spsi-terorisme-moral-anak-bernama-pornografi
Selengkapnya...
Rabu, 16 Februari 2011
Hj Elly Risman Musa SPsi, 'Terorisme' Moral Anak Bernama Pornografi'
Keberkahan Sekolah itu Beyond Teknologi

(Teguran Elly Risman pada Guru dan Sekolah)
Jangan mentang-mentang berprofesi guru, Anda berlindung di balik kemuliaan profesi! Kalau Anda berbuat tak patut, Tuhan tetap akan menghukum!” pedas kata-kata keras Kak Elly Risman, tokoh multi talenta yang kerap berbicara masalah pendidikan dan parenting.
Pernyataan kak Elly disampaikan pada kami kala beliau mengisahkan beberapa guru berperilaku tak baik. Ada yang selingkuh, ngerauk uang sekolah berlebihan, sodok sana sikut sini, dan lainnya. ”Eh… tahu nggak apa yang terjadi”. Lanjut Kak Elly penuh ekspresi. “Meski mereka guru, azab Tuhan tetap disangkakan. Banyak cerita guru yang terkena dampak ketidakjujuran.
Ada yang jalan tapi nggak bisa berhenti. Lurus aja, kayak penguin, sampai nabrak tembok…. Ha..ha..ha…”, Kak Elly tertawa geli, mungkin membayangkan tata laku penguin. Ada yang didera kesulitan berkepanjangan. Ada yang ngomong tak bisa berhenti, kalau tidak ditutup mulutnya oleh rekannya – dulu rupanya ada uang komisi nggak pake rem masuk ke kantong pribadinya. Ada pula yang rumah tangganya hancur.
Meski pekerjaannya sangat mulia, setelah ‘berdagang’, kini guru tergerogoti karena status dan profesinya. Sekilas cerita Kak Elly tadi terdengar menakut-nakuti. Tapi dengar lagi penuturannya di kantornya yang sangat bersahaja. “Saya berkeinginan membuat sebuah pelatihan, dengan membangun komunitas guru, yang akan mengetuk para pengelola dan pemilik sekolah, agar jangan hanya menuntut peningkatan kompetensi saja. Pelatihan ketrampilan mengajar marak diberikan, biasanya dengan pendanaan kuat. Agendanya mulai dari cara membuat lesson plan, asesmen, bedah kurikulum, manajemen kelas, manajemen anak, komunikasi produktif, teknik bertanya, mengenali gaya belajar siswa, hingga seabrek ketrampilan yang memang harus dimiliki guru. Sederet peningkatan kompetensi Teacher as a proffesion.”
“Semua menunjuk ke arah anak. Coba peragakan dengan jari mengarah ke depan: berapa jari yang mengarah ke kita? Mana yang lebih banyak? Dengan kata lain, mana yang melatih Guru sebagai humanis berketeladanan? Berapa kali Anda dilatihkan cara menjadi Guru yang digugu dan ditiru? So, HOW ABOUT ME? Siapa yang akan bertanya: How do you feel teachers? What do you feel teachers?”
Siapa yang peduli dengan segala persoalan di luar urusan profesional sebagai guru, namun kehidupan mereka sebagai manusia biasa yang bisa saja melintir jalan hidupnya, terseok masalah, terjebak ancaman. “Ayo, siapa peduli?” tantang Kak Ely.
“Jadi Guru sekarang ini memang beraaaaaat,” tambah Kak Elly dengan penuh romansa. Apa yang Guru terapkan untuk orang lain (siswa, teman sejawat, orang tua, dll) belum tentu bisa diterapkan di kehidupannya sendiri. Tuntutan sekarang tinggi sekali, sementara kelas sosial guru dan siswa amat jauh bedanya. Ini umumnya guru, meski ada sedikit Guru keren yang melenggang tanpa kesulitan,” tandasnya.
“Guru tidak sesantai dulu. Banyak Guru sekarang nggak bisa ‘bersih’. Mengharap hadiah akhir tahun atau lebaran, menuai amplop saat penerimaan siswa baru yang melebihi kapasitas, sehingga sulit menjawab pertanyaan orang tua: “Berapa kami harus bayar agar diterima?”
“Oh ya, di majalah Teachers Guide yang bagus ini, tolong masukkan rubrik atau kolom humanis, yang berisi pengamalan guru berperilaku tak benar-tak patut dan akibatnya. Agar bisa menjadi perenungan dan peringatan,” begitu pintanya.
Mengapa ini Terjadi?
“Sama dengan orang lain, guru itu belajar agama masih banyak bersifat hafalan belaka. Tak dimaknai. Jadi ndak cukup spiritual. Firman Allah SWT: ” Akan Aku sampaikan kepedihan pada engkau dan anak cucu, sebelum kalian bertobat’ “Saya sering menerima konseling parenting. Anaknya bermasalah berat. Hasil tes tak menunjukkan ada penyebab klinis psikologisnya.
Pertanyaan saya kemudian : ”Coba jujur, siapa di antara orangtua yang selingkuh? Anak yang orang tuanya selingkuh, diketahui pertama oleh Allah, kedua oleh anak. Sampai begitu akibat yang ditimbulkan, lho,”
“Penyakit Guru saat ini sangat banyak. Selingkuh pikiran, selingkuh hati, selingkuh pekerjaan, waktu. Di sisi lain, sekolah juga harus memberi perhatian. Jangan hanya memperbaiki fasilitas dan kecanggihan teknologi IT. Sekolah harus mencari keberkahan melalui kesejahteraan dan perhatian pada guru. Selain hal primer, kebutuhan apresiasi lain juga difikirkan, mulai dari perhatian hati, hingga kendaraan, sampai naik haji. Kalau guru bagus, berkah itu sekolah!”
“Pendidikan itu harus berkah. Keberkahan tidak diukur dari teknologi. Keberkahan itu beyond technology. Dan ini diawali karena guru yang diurus dan disejahterakan. Jangan hanya ambil anak yatim atau duafa, taruh di sekolah dan sudah. Ndak ketemu juga. Minder anaknya. Guru saja urusin dulu deh!” lugas kata kak Elly.
Teachers as a Teacher?
Di sekolah kami, semua Guru harus memanggil siswa dengan sebutan ‘nak’. Guru harus mendidik siswa agar bisa bilang pada orang lain: “Sorry, saya sholat dulu ya”. Tapi mencetak siswa didik seperti ini tak mudah, harus dengan hati! Guru juga ‘teacher as a mother, as a parents’. Jadi komunitas pelatihan yang perlu dibentuk itu bukan hanya bicara guru dan profesinya, juga tentang dirinya dan persoalannya. Ini siapa yang urus? “Guru jangan hanya dipandang sebatas profesi terus. Tapi sebagai manusia. Sehingga dia bisa sukses di sekolah, bahagia di rumah!”
“Sekali lagi, jadi Guru sekarang ini tuntutannya sangat tinggi. Bebannya besar. Guru yang tadinya ‘bersih’, lantaran keadaan yang ‘memaksa’ harus bersentuhan dengan yang tak lurus. Komisi buku, suap siswa baru, hadiah penunjukan penyuplai perlatan sekolah.Nah… yang begini akhirnya membawa Guru menjadi tak lagi bahagia.”
“Jangan katakan klise nilai-nilai universal ini. Ketangguhan, rasa syukur, dengan hati, harusnya ini dilatihkan. Dimasukkan dalam dimensi kehidupan guru. Membangun karakter hanya bisa dilakukan lewat keteladanan. That’s it! Ikhlas itu rahasia di atas rahasia, cahaya di atas cahaya….. sesuatu yang beyond……Sekolah jangan kehilangan berkah. Pendidikan tak bisa lepas dari fitrah.”
Identity Crisis
“Memang ini kenyataan. Maaf ya…… Guru kebanyakan berasal dari keluarga kelas bawah. Ia lahir di tengah keluarga yang sangat sederhana, bahkan tak mampu. Kemudian menjelang dewasa, dia ingin sekolah, pengin jadi guru (yang gampang fikirnya). Lalu pinjamlah dia uang ke pamannya, ke neneknya, ke kerabatnya, untuk masuk PG TK, PGSD,Institut Keguruan, dan sejenisnya. Karena biasanya biayanya masih cukup terjangkau.”
“Setelah lulus, kemudian guru itu masuk mengajar di sekolah yang agak menengah atau lebih atas lagi. Coba fikir, berapa tahun dia menuntut ilmu kependidikan? Saya yakin tak menyentuh jiwanya sebagai pengajar yang ‘sepadan’. Tentu saja kemudian guru model ini kalah pede, kalah perbawa dari orang tua. ini terjadi di mayoritas sekolah. Muncullah kamuflase, tingkah laku kompensasi, identity crisis. Mestinya, ilmu yang ditempuh itu berguna bagi individunya dulu, baru untuk profesinya.”
“Tanamkan pada guru, untuk jadi bahagia BUKAN HANYA UANG! Ini persoalan mind set. Intangible, tak bisa dilihat. Tapi dirasakan. Ini juga hidden curriculum. Jika sekolah mampu menyediakan guru-guru yang sudah tangguh dengan pendalaman value, maka akan tercapai next generation yang diharapkan.”
Di Fakultas Psikologi ada yang baru, namanya PSYCHOLOGY VALUE. Mudah-mudahan tak terlambat. Caranya bagaimana? Dicari bibitnya, dilatih, dicontohkan, dinilai, diperbaiki lagi. “Lama? Iya memang. Sekolah itu baru akan tampak hasilnya setelah 20 tahun, bukan? Jadi bukan produk instan !“
Hmmm….. Kak Elly Risman bertutur dalam dua dimensi. Satu menuntut pribadi guru yang bersih, agar tak terkena dampak dekadensi moral, satu lagi meminta kesadaran pengelola sekolah untuk memperhatiakan ‘how about me’ tadi. Insya Allah segera akan kita dukung niatan Kak Elly untuk mewujudkan komunitas pelatihan ini
Oleh: Ibu ELY RISMAN Tercinta
Sumber: http://teachersguideonline.blogspot.com/2010_02_01_archive.html
Selengkapnya...
Senin, 14 Februari 2011
Manuver Perdana Robot Pesawat Jet Tempur Siluman, X-47B
Aksi salah satu sosok dalam sebuah film seringkali membuat banyak orang di dunia terinspirasi untuk menuangkan dalam bentuk karya-karyanya. Hanya berselang enam tahun setelah penayangan sebuah film Stealth, sebuah perusahaan Northrop Grumman dikabarkan baru saja telah berhasil mengembangkan tipe robot pesawat tempur siluman pertama di dunia dan diberi nama X-47B. Robot pesawat siluman yang dikendalikan tanpa awak ini, telah berhasil menyelesaikan uji layak terbangnya selama 29 menit di atas ketinggian 5000 kaki dan mendarat dengan mulusnya di Edwards Air Force Base yang berlokasi di California, Amerika Serikat.
Tipe robot X-47B merupakan sebuah proyek rahasia atas kerjasama perusahaan Northrop Grumman dengan angkatan laut Amerika Serikat yang telah menelan dana sebesar 635.000.000 USD atau sekitar 6,35 Biliun rupiah. Robot pesawat jet tanpa awak ini mempunyai rentang dan daya yang lebih besar untuk melakukan aksi lepas landas dari sebuah kapal induk, dilengkapi amunisi bom yang dikendalikan laser dan mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara.
Uji layak terbang yang telah berlangsung lebih dari setahun ini merupakan sebuah langkah awal untuk memperagakan sosok terbaru dari tipe robot pesawat jet tempur siluman yang pertama di dunia. Dan usut punya usut ternyata tipe robot ini kabarnya baru akan digunakan untuk keperluan militer pada tahun 2013 yang akan datang.
X-47B ini mampu melakukan penerbangan dengan kecepatan puncak “High Subsonic”, yang katanya jauh lebih cepat dibandingkan dengan UAV seperti pesawat Predator dan pesawat Reaper yang telah ada sebelumnya. Kedua sayap pesawat yang mirip seperti sayap kalelawar ini memiliki panjang 62,1 feet (18.9280 meter), bermuatan maksimum 4500 pound (2 ton lebih), dilengkapi dengan sejumlah sistem sensor dan jangkauan lebih dari 2100 mil laut (3379,6224 km). Yang lebih hebatnya lagi, robot pesawat jet tempur ini dapat dikendalikan secara jarak jauh (remote) ataupun diprogram lebih lanjut guna keperluan sebuah misi tertentu.
Dibekali dengan kemampuan terbang lebih dari 40.000 feet atau sekitar 12.192 meter, robot ini dapat digunakan sebagai pesawat mata-mata atau pesawat intai untuk misi intelejen, penyerangan secara presisi dan mendeteksi rudal balistik yang ada. Sebelum diuji coba untuk peberbangan menggunakan kapal induk, robot pesawat ini juga dijadwalkan bakal akan ada lagi uji penerbangan tambahan lagi di Naval Air Station Patuxent River.
Selain tipe X-47B ini, kabarnya masih ada kendaraan udara tempur tak berawak lainnya yang akan segera menyusul diuji coba yakni pesawat tempur siluman tak berawak Taranis milik Inggris. Dan kabarnya juga akan diuji coba pada tahun 2011 ini.
Berikut cuplikan video penerbangan perdana X-47B ini
Sumber:(http://www.beritateknologi.com/manuver-perdana-robot-pesawat-jet-tempur-siluman-x-47b/)
Selengkapnya...
Jumat, 11 Februari 2011
Anak, perhiasan sekaligus ujian
Allah Subhannahu Ta’ala berfirman:
ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ
“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia “(QS. Al-Kahfi:46)
Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka.
Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian).
Dan Allah Subhannahu Ta’ala berfirman:
إِنَّمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةٌ۬ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥۤ أَجۡرٌ عَظِيمٌ۬
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghaabun:15)
Jangan kita terpedaya!
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allooh Subhannahu Ta’ala. Ia menjadi angkuh dan berbangga diri karena anaknya, merasa paling tinggi dari orang lain. Ia sombong dan takabbur, bahkan merendahkan orang lain dan berlaku aniaya. Maka hal itu hanya mengantarkannya ke neraka.
Simak firman Allooh Subhannahu Ta’ala berikut ini:
(وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (٣٤
(وَقَالُواْ نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ (٣٥
(قُلۡ إِنَّ رَبِّى يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (٣٦
وَمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُكُم بِٱلَّتِى تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ
(لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِى ٱلۡغُرُفَـٰتِ ءَامِنُونَ (٣٧
Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:”Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.
Dan mereka berkata:”Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan di azab”.
Katakanlah:”Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam jannah). (QS. Saba’: 34-37)
Anak, kerap kali mendorong ayah untuk meghalalkan usaha yang haram. Demi masa depan anak katanya…
Ia pun berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, sekalipun ia harus mendzhalimi yang lemah, memusuhi manusia atau memutus tali silaturrahim.
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang kepadanya seraya berkata,”Anakmu tadi minta ini dan itu! Maka demi anaknya, ia pun urung menginfakkan hartanya di jalan Allooh Subhannahu Ta’ala. Padahal yang diminta oleh anaknya itu bukanlah suatu kebutuhan primer.
Benarlah sabda Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam:
“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.” (HR. Al-Hakim (5284) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’(1990))
Ketika ia harus mengatakan kalimat yang hak, ia berfikir dua kali. Ia takut petaka akan menimpa dirinya dan anak kesayangannya. Ia pun memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.
Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh, melanggar syari’at agama dengan ucapan maupun perbuatannya, mengugat takdir Allooh dan tidak menerima ketetapan-Nya. Ia pun membawa anaknya ke dukun padahal Nabi melarang pebuatannya itu.
Yang parah lagi, ada pula anak yang mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, Wallaahul musta’an.
Perhatikanlah orang yang tertipu disebabkan anak-anaknya dan tidak mensyukuri nikmat Allooh ini! Ia adalah seorang kafir Makkah bernama Khalid bin Mughirah. Allooh Subhannahu Ta’ala berkata tentangnya:
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.
Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,
dan anak-anak yang selalu bersama dia,
dan Ku-lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,
kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.
Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur’an).
Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. (QS. Al-Muddatstsir: 11-17)
Dia adalah lelaki yang dikarunia anak-anak dan Allah menjadikan ia selalu bersama mereka untuk mengais rizki. Bahkan rizki lah yang mengelilinginya. Dan anak-anaknya senantiasa berada di sisi nya menjadi hiburan baginya. Walau demikian, ia tidak mensyukuri nikmat Allooh, bahkan dibalasnya dengan kekufuran.
Akibatnya, Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:
Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.
Tahukah kamu apa (naar) Saqar itu
Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.
(Naar Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS. Al-Muddatstsir: 26-29)
Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari fitnah (godaan) ini?
Jadikanlah cinta pertama kita untuk Allooh Subhannahu Ta’ala. Jadikan manusia yang paling kita cintai adalah Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allooh dalam mengurus mereka.
Rosulullah Shalallahu ‘alahi Wassallam mengajarkan bahwa di antara yang dapat menghapuskan keburukan akibat godaan anak adalah mengerjakan sholat, puasa, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar. Rosulullah Shalallahu ‘alahi Wassallam bersabda:
“Gangguan menimpa seseorang disebabkan keluarga, harta, anak, diri dan tetangganya dapat dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Walloohu a’lam bish showab.
Dikutip dari buku “Mencetak Generasi Robbani, Pustaka Darul Ilmi untuk jilbab.or.id
Selengkapnya...